Sabtu, 02 Agustus 2008

3. Pengalaman Pertamaku Belajar Pipis Sendiri


Waktu minggu-minggu pertama, kalau pipis suka ‘gak sadar. Tau-tau basah. Aku kaget dan langsung memanggil Mimim.

Pastinya dengan suara yang lantang. Dan seperti biasa, Mimim langsung datang menghampiri dengan tergesa-gesa. Dan tidak pernah lupa selalu diikuti dengan sapaan yang lembut, “Ahaad?!… sudah bangun rupanya!!”. “Pipis nggak??”.

Dan mungkin karena aku seekor kucing, bila pertumbuhanku dibandingkan dengan pertumbuhan manusia, pertumbuhanku jauh lebih cepat.


Dalam umur satu bulan, aku sudah diajarkan pipis sendiri oleh Mimim. Walaupun, yaaah… masih agak ‘gak pede. Tapi dengan berjalannya waktu, aku bisa pipis sendiri.

Hal pertama yang Mimim ajarkan mengenai pipis adalah, “kalau pipis aku harus jongkok, hampir terduduk”. Biasanya aku agak lama untuk bisa segera pipis. Kata Mimim sih karena akunya kurang konsentrasi. Abiis… kalau pipis pasti ditungguin. “Kan Malu..!!!”

Terus kalau sedang jongkok pun, setiap lima detik sekali Mimim pasti menanyakan hal yang sama tanpa berhenti, “Udaah..?? Udah..??”, teruus saja. Jadi,, gimana mau pipis, yang ada malu dan memperhatikan Mimim bicara.

Pertama kali pipis, aku tidak langsung di tanah. Melainkan di lap ompol. Aku memberi istilah dengan nama itu. Kalau Mimim memberi istilah “Popok Pipis Ahad”. Bahan yang digunakan biasa aja.

Mimim beli popok itu di Pasar Baru. Biasanya orang-orang menggunakan lap itu sebagai lap rumah tangga. Seperti untuk lap tangan, lap piring, dan lain-lain. Itu loh.. yang bentuknya segiempat bergaris-garis.

Popokku banyaak… ada sepuluh buah. Biasanya digunakan secara bergiliran. Setiap hari aku menghabiskan empat buah popok. Popok yang sudah digunakan dari pagi berangkat ke kantor sampai pulang ke rumah dicuci. Lalu di jemur. Nah.. malamnya menggunakan popok yang ada di lemariku. Dan yang lain untuk cadangan kalau-kalau empat popok yang basah masih kurang kering.

Mimim biasanya menjemurnya di bagian belakang kulkas punya Nini. Katanya sih agar lebih cepat kering.
Setelah selesai pipis, Mimim langsung membersihkan bagian belakang badanku dengan kapas yang diberi air hangat. Lalu menggunakan tissue untuk menyerap air yang tersisa di badanku. Aah… repot juga ya kalau dipikir-pikir. Tapi demi menjaga kebersihan badanku, semua itu Mimim lakukan dengan senang hati.
Terimakasih Mimim.




Beberapa bulan kemudian aku sudah bisa pipis sendiri dengan lancar dan pede. Alas yang digunakan pun sudah berbeda. Bahan yang digunakan berikutnya dari tissue kotak sebanyak dua lembar. Kalau Mimim dan Pipip belanja kebutuhan bulanan rumah dan kantor, pasti Mimim mengajakku. Aku biasanya disimpan di bagian belakang troli.

Kalau aku lihat, biasanya ibu-ibu yang lain mempergunakan bagian belakang troli itu untuk menyimpan tasnya, bahkan mendudukan anaknya yang masih balita di tempat itu. Kalau aku sih enaaak… alasnya menggunakan baju hangat, lalu aku, dan diselimuti oleh bagian baju hangat lainnya.

Nah, kalau Mimim belanja, ‘gak akan lupa selalu menyelipkan tissue yang bergulung dan yang berbentuk kotak untuk pipisku.




Tempat pipisku yang baru menggunakan ranjang untuk buah-buahan dari rumah Nini (pinjem Ni…) yang di lapis plastik lalu menggunakan perekat untuk mencegah plastik bergeser kesana-kemari dan mencegah kebocoran.
Sebelum aku pipis, biasanya aku memanggil Mimim dulu. Dengan suara miaw kecilku yang panjaaaang, “Miaaaaaaaaaaw...!!!!”, Mimim akan segera datang menyambutku, mengantarku ke tempat pipisku, lalu aku segera jongkok dan… “weeerrrrrrr”.

Setelah aku pipis, aku dengan senang hati langsung menghampiri tangan lembut Mimim yang akan segera membasuh sisa pipisku.
Setelah dibersihkan, aku akan berpindah tangan ke tangan Pipip lalu Mimim segera membersihkan bekas pipisku dan menggantinya dengan tissue yang baru.

Aku belum dulu bobo, karena setelah pipis aku ingin mimi dulu dong….!!! Haha…
Sekarang lain dengan dulu. Semenjak aku berumur empat bulan, Mimim mengajarkan aku untuk pipis di pasir khusus pipis kucing yang di belinya di Petshop. Aku punya kartu member loh…!!! Nah… sejak saat itu lah sampai sekarang, kalau aku pipis selalu ingin di pasir itu.

Aku gali dulu hingga cukup dalam agar air pipis itu tidak menempel di ekor pendekku. Lalu aku duduk seperti yang Mimim ajarkan dulu.

Jadwal pipis aku sudah rutin sekarang. Kalau pagi, aku pipis setiap jam delapan, siang jam dua, dan malam jam sembilan sebelum bobo. Beda dengan dulu waktu aku masih kecil. Jadwalnya selalu berubah dan sering. Mungkin karena aku masih banyak minum susu.




Ngomong-ngomong tentang pipis, aku pernah lihat kucing raksasa yang sama-sama tinggal di rumahku sekarang punya kebiasaan aneh. Suka menciumi sesuatu khususnya bahan plastik dan kayu. Tingkah laku yang pertama mereka lakukan menggesekkan badannya, lalu membelakanginya, terus “Crooot…!!!”. Baunya pun aneh sekali. Dan cairan itu bisa terus basah hingga beberapa hari kedepan.

Iyuuuhh….,, Apakah itu pipis dengan cara yang lain ya?! Atau ada maksud tertentu??. Aku tidak tahu bagaimana caranya. Dan aku tidak mau seperti itu. Karena, kalau mereka sudah begitu, Teteh Teti kakaknya Pipip, biasanya suka langsung memarahi mereka. Kadang pukulan ringan di paha bisa mereka dapatkan kalau mereka pipis di barang-barang kesayangan atau barang-barang penting Teteh. Aku tidak mau sampai dipukul Mimim.

Untuk menghindari mereka melakukan Upacara Adat seperti itu misalnya di kantor Mimim, begitu mereka mau lewat ke kantor Mimim jalan mereka dituntun dari pintu dalam kantor sampai keluar. Sering kali Pipip yang sering melakukan hal lucu itu. Hahaha… dengan muka bete, mereka terpaksa segera pergi, atau mereka kena marah Teteh lagi.

Hal yang anehnya lagi, apakah hal itu hanya terjadi pada kucing jantan saja ya?! Temanku Ibut kucing betina, tidak pernah seperti itu rasanya. Ah.. entahlah.

.....

Tidak ada komentar: